Berkat Riau Andalan Pulp & Paper, Pembakar Lahan Jadi Pelindung Hutan

Kelestarian hutan selalu menjadi fokus utama PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP). Aneka kegiatan mereka lakukan untuk melakukannya. Salah satunya mampu mengubah seorang pembakar lahan menjadi pelindung rimba.

PT RAPP merupakan unit operasional bagian dari Grup APRIL. Mereka adalah salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Saat ini, APRIL mengelola perkebunan seluas 476 ribu hektare untuk mendapatkan bahan baku. Sudah sejak lama, mereka tidak pernah memperoleh kayu dari hutan alam atau hasil pembalakan liar.

Sekarang, APRIL menyerahkan operasional perkebunan kepada RAPP Riau. Unit bisnisnya itu akhirnya bekerja sama dengan sekitar 40 mitra pemasok jangka panjang dalam merawat kebun yang ditanami pohon akasia tersebut.

Berkat langkah tersebut, sekitar 79 persen kebutuhan fiber perusahaan sudah tercukupi. Tak heran, mereka mampu memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas sebanyak 859 ribu per tahun. Kapasitas produksi inilah yang mampu membuat APRIL tercatat sebagai salah satu pemain besar dalam industrinya.

Dalam menjalankan operasi perusahaan, RAPP selalu berkomitmen terhadap perlindungan alam. Secara khusus, kelestarian hutan menjadi fokus perhatian mereka.

Harus diakui, saat ini, luas hutan di Indonesia terus menyusut. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik yang diperbarui 18 Februari 2017), rimba di negeri kira tinggal sekitar 126 juta hektare. Luas ini sudah termasuk dengan kawasan di perairan.

Namun, laju deforestasi sangat cepat. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa setiap tahun negeri kita kehilangan hutan seluas 450.000 hektare. Tingkat deforestasi ini memang sudah sangat menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi, tetap saja akan membahayakan jika tidak benar-benar dihilangkan.

Pemicu kebakaran lahan dan hutan memang sangat beragam. Namun, kebiasaan buruk dari masyarakat untuk membakar ketika hendak mempersiapkan lahan pertanian menjadi salah satu yang sering memicu api berkobar.

Salah satu orang yang pernah melakukannya adalah Helmi yang berasal dari Desa Kuala Tolam di Provinsi Riau. Dulu ia sering membakar untuk membuka lahan yang akan digunakan untuk bercocok tanam.

Namun, kini Helmi sudah tidak pernah melakukannya lagi. Ia bahkan berbalik arah menentang praktik pembakaran lahan. Helmi justru gencar mengampanyekan kesadaran untuk melindungi lahan dan hutan dari ancaman kebakaran.

Penyebabnya adalah kejadian tragis yang dialami oleh Helmi pada tahun 2008 lalu. Saat itu, ia membakar hutan karena hendak digunakannya untuk bercocok tanam. Tidak disangka, tindakannya itu berdampak besar. Api berkobar liar hingga melahap lahan dalam jumlah besar.

Salah satu yang terkena imbasnya adalah perkebunan kelapa sawit milik salah seorang tetangga Helmi. Kebun itu ludes dilalap si jago merah. Akibatnya, Helmi terkena denda. Ia mesti membayar Rp20 juta sebagai ganti rugi kepada tetangganya tersebut.

“Saya dituntut ganti rugi, dan setelah membayarnya, saya tidak pernah lagi membakar lahan lagi, saya kapok. Gara-gara itu, saya dan istri harus menjual emas untuk biaya ganti rugi,” tutur Helmi.

Sejak saat itu, Helmi memutuskan tidak akan lagi membakar hutan. Ia sudah kapok dan tidak bakal mengulanginya kembali. Namun, keberuntungan akhirnya malah menghampirinya. Hal terjadi ketika induk perusahaan Riau Andalan Pulp & Paper menggelar Program Desa Bebas Api di desanya.

Kegiatan itu ternyata menjadi jalan bagi Helmi untuk mengampanyekan kesadaran untuk menjaga hutan dari kebakaran. Pasalnya, ia terpilih sebagai Crew Leader dalam Program Desa Bebas Api di Desa Kuala Tolam.

 

MENYEBARKAN KESADARAN ANTIBAKAR LAHAN

            Helmi kini semakin mantap berbalik haluan sesudah dipilih sebagai Crew Leader Program Desa Bebas Api dari PT RAPP. Sekarang ia memiliki tugas utama untuk mengedukasi masyarakat akan bahaya pembebasan lahan dengan cara membakar. Selain itu ia juga harus melakukan sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran lahan di desanya.

Agar tugasnya berjalan lancar, setiap hari Helmi harus berkeliling ke desanya. Sehari-hari, bersama dengan aparat desa, ia berjalan kali mengelilingi Desa Kuala Tolam untuk menemui masyarakat lain.

“Ya saya ceritakan saja pengalaman saya ke masyarakat. Pokoknya janganlah membakar lahan lagi. Dulu saya membakar lahan dan sekarang malah dapat amanah untuk mencegah,” ujar Helmi.

Selain menyadarkan bahaya api terhadap masyarakat, tugas sebagai Crew Leader membuat Helmi bertanggung jawab terhadap kondisi desanya. Ia harus rutin berpatroli memantau keadaan dan memastikan tidak ada kebakaran yang terjadi di wilayahnya.

Ketika melaksanakan tugas tersebut, Helmi tidak hanya melalui jalan darat. Tak jarang ia mesti menaiki kapal mengarungi Sungai Kampar untuk melihat kondisi wilayah Desa Kuala Tonam.

Pada awalnya, tidak mudah bagi Helmi dalam menjalani profesi barunya Tugas sebagai Crew Leader menuntutnya agar menyadarkan masyarakat supaya tidak membuka lahan dengan membakar. Namun, karena sudah menjadi tradisi, sulit bagi warga untuk menerima saran dari Helmi. Banyak di antara mereka yang tetap berkeras melakukan sistem buka lahan dengan membakar.

Kesulitan yang dihadapi Helmi semakin bertambah karena warga tahu kisahnya dulu kala. Sebelumnya Helmi sama seperti mereka, gemar membakar untuk membuka lahan pertanian. Kini, ketika ia mengajak orang lain untuk tidak melakukannya, masyarakat tidak langsung menerima.

Akan tetapi, Helmi tetap teguh dan berbesar hati. Ia terus menjalankan tugasnya sepenuh hati. Lambat laun, masyakarat akhirnya bisa menerima sarannya.

“Saya sempat ditolak oleh masyarakat setempat. Mereka bilang saya munafik, karena saya dulu juga melakukan hal yang sama. Tapi, alhamdulillah, kini warga mulai mengerti jika membuka lahan dengan cara bakar itu salah dan banyak ruginya,” tutur Helmi.

Ketika mengajak warga agar membuka lahan tanpa membakar, Riau Andalan Pulp and Paper tidak hanya meminta. Mereka juga berupaya memberi solusi kepada masyarakat terkait alternatif cara pembukaan lahan.

Selama ini, RAPP Riau akhirnya memilih untuk meminjamkan alat berat kepada warga. Alat itu dapat digunakan untuk membuka lahan. Agar bisa memakainya, Crew Leader seperti Helmi berperan penting. Ia menjadi penghubung antara masyarakat dan RAPP. Warga bisa menghubunginya ketika memerlukan dukungan alat berat. Sesudah itu, Helmi mengontak PT RAPP agar meminjamkannya.

Sistem ini ternyata efektif. Selain tidak perlu membakar, lahan juga lebih cepat bisa digarap. Tak aneh, Program Desa Bebas Api berjalan lancar.

Salah satu buahnya adalah tingkat kebakaran yang hilang di Desa Kuala Tonam. Selama tahun 2016, desa itu terbebas dari kebakaran sama sekali. Akibatnya, mereka mendapat insentif dari Riau Andalan Pulp & Paper sebesar Rp50 juta.

Tahun 2017, hal serupa juga terjadi. Desa Kuala Tonam yang dijaga oleh Helmi juga masih terlepas dari kebakaran.

Selain senang karena desanya bisa mendapat insentif, Helmi merasa puas tidak ada kebakaran di desanya karena alasna kesehatan. Ia girang tidak ada gangguan pernapasan lagi di wilayahnya.

“Kalau kebakaran bisa dicegah, tak hanya hadiah yang kami dapatkan, tapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, karena tidak ada lagi asap yang akan mengganggu pernapasan kami,” ucap Helmi. “Semoga dengan ditambah dengan peraturan dari pemerintah, masyarakat semakin tidak berani membakar.”

Kesadaran seperti ini yang diharapkan oleh RAPP Riau. Mereka ingin masyarakat sadar sepenuhnya terhadap bahaya api sehingga mau melindungi hutan. Kalau ini terjadi, hampir dipastikan kelestarian rimba di Indonesia bisa terjaga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *